POLITIK

Perusahaan Vietnam Paling Banyak Diserang Spyware di Asia Tenggara

By Bambang Wibowo • 2 min read • 27 Mei 2026
Visualisasi ancaman keamanan siber dan serangan spyware yang menargetkan jaringan komputer korporasi

Visualisasi ancaman keamanan siber dan serangan spyware yang menargetkan jaringan komputer korporasi

Lanskap keamanan siber di kawasan Asia Tenggara kian mengkhawatirkan menyusul lonjakan serangan perangkat perusak yang menargetkan sektor korporasi. Berdasarkan laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber global Kaspersky, perusahaan-perusahaan di Vietnam menjadi korban yang paling parah terkena dampak serangan spyware di wilayah tersebut sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data yang dirilis, total angka serangan yang diarahkan ke Vietnam melesat jauh melampaui negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Dari pantauan redaksi, jumlah kasus di Vietnam mengungguli Malaysia dan Indonesia secara signifikan, di mana kedua negara tersebut masing-masing melaporkan sekitar 194.600 kasus serangan siber serupa.

Laporan tahunan tersebut menyoroti adanya peningkatan tajam dari ancaman terkait spyware yang secara spesifik menyasar sektor korporasi dan perusahaan. Menurut catatan tim redaksi, total sebanyak 818.939 serangan berhasil dideteksi dan dilumpuhkan di seluruh kawasan Asia Tenggara tahun lalu, menandai kenaikan sebesar 18 persen secara tahunan.

Meskipun Vietnam memimpin dalam jumlah total kasus, Singapura justru mencatatkan lonjakan persentase serangan spyware tertinggi yang menyasar dunia bisnis, dengan kenaikan drastis mencapai 111 persen secara tahunan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Filipina menyusul di tempat kedua dengan lonjakan 85 persen, disusul Malaysia yang mencatat kenaikan 75 persen.

Tren kenaikan ini juga menjalar ke pasar-pasar utama lain di kawasan Asia Tenggara. Indonesia sendiri mendaftarkan peningkatan jumlah serangan sebesar 35 persen, sementara Vietnam menunjukkan pertumbuhan yang lebih moderat yakni sebesar delapan persen jika dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

Di tengah tren kenaikan massal tersebut, Thailand menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil mencatatkan penurunan signifikan. Berdasarkan data komparatif, serangan spyware di Negeri Gajah Putih tersebut terpantau merosot tajam hingga 53 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Menurut penjelasan dari Simon Tung selaku General Manager Kaspersky untuk ASEAN dan Asia Emerging Countries, para pelaku kejahatan siber kini mulai mengubah fokus strateginya. Penjahat siber tidak lagi sekadar mengganggu operasional sistem perbankan atau korporasi, melainkan beralih fokus untuk mencuri informasi strategis serta data rahasia perusahaan.

Berdasarkan analisis pakar siber, spyware merupakan jenis perangkat lunak berbahaya yang dipasang secara rahasia untuk mengumpulkan data penting tanpa izin pemiliknya. Selain memicu kebocoran data sensitif, infeksi spyware juga dapat menguras sumber daya sistem, menurunkan performa perangkat jaringan, hingga melumpuhkan aktivitas operasional harian perusahaan.

BACA JUGA

Park Hang-seo Resmi Ditunjuk Jadi Pelatih Baru Kanchanaburi FC — Mantan pelatih timnas Vietnam, Park Hang-seo, resmi ditunjuk sebagai manajer baru klub Thailand Kanc...

TOPIK
Keamanan Siber Spyware Kaspersky Vietnam Asia Tenggara Kejahatan Siber
Bambang Wibowo
Jurnalis Olahraga Senior

Bambang Wibowo adalah jurnalis sepak bola yang telah meliput sepak bola Indonesia, Vietnam, dan Asia Tenggara selama lebih dari 10 tahun. Ia dikenal dengan analisis taktik yang tajam dan informasinya yang akurat seputar bursa transfer.