BERITA

Vietnam Berpotensi Jadi Pemimpin Energi Angin Terbesar di Asia

By Bambang Wibowo • 2 min read • 28 Mei 2026
Konferensi pers Asia-Pacific Wind Energy Summit 2026 mengenai potensi energi angin di Hanoi Vietnam

Konferensi pers Asia-Pacific Wind Energy Summit 2026 mengenai potensi energi angin di Hanoi Vietnam

Vietnam kini dipandang sebagai calon pemimpin sektor energi angin di kawasan Asia, di luar Tiongkok dan India. Berdasarkan pantauan redaksi dalam konferensi pers yang digelar oleh Global Wind Energy Council (GWEC) bersama surat kabar Tai Chinh - Dau Tu di Hanoi, negara ini dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang masif. Konferensi tersebut diselenggarakan sebagai persiapan menjelang Asia-Pacific Wind Energy Summit 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang untuk membahas kerangka kebijakan, investasi, dan rantai pasok energi terbarukan.

Menurut target dalam Power Development Plan VIII (PDP VIII) yang telah direvisi, Vietnam membidik kapasitas angin darat sebesar 26 hingga 38 GW dan sekitar 6 GW untuk pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai pada tahun 2030. Perwakilan GWEC menjelaskan bahwa total potensi angin lepas pantai negara ini diperkirakan mencapai 600 GW. Dari pengamatan tim redaksi, sebagian besar potensi tersebut berada di area landas kontinen yang relatif dangkal, sehingga memungkinkan penggunaan proyek fondasi tetap (fixed-bottom) yang jauh lebih ekonomis dibandingkan teknologi turbin terapung di Korea Selatan atau Jepang.

Meskipun target tersebut sangat ambisius, pertumbuhan permintaan listrik domestik Vietnam yang mencapai dua digit menjadikannya faktor pendorong utama bagi investor global. Berdasarkan analisis para pakar dalam taklimat tersebut, sektor angin lepas pantai global saat ini sedang menghadapi tekanan berat akibat kendala rantai pasok, lonjakan harga turbin, dan biaya layanan yang tinggi. Sebagai pasar yang relatif baru, Vietnam dituntut segera merumuskan strategi integrasi harga yang jelas guna meminimalkan persepsi risiko investasi yang tinggi dari luar negeri.

Dari pantauan redaksi di lokasi acara, Alessandro Antonioli selaku Country Director Copenhagen Infrastructure Partners untuk Vietnam turut menyoroti keunggulan industri minyak dan gas lepas pantai negara tersebut. Menurut pengamatannya, perusahaan-perusahaan domestik berpengalaman selama puluhan tahun di laut dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun infrastruktur turbin angin. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa model perjanjian jual beli listrik (PPA) yang ada saat ini masih perlu diperbaiki agar memenuhi standar pembiayaan proyek internasional.

Berdasarkan rencana pengembangan ke depan, salah satu badan usaha terkemuka, Petrovietnam Technical Services Corporation (PTSC), kini tengah mempercepat ekspansi halaman fabrikasi mereka di Vung Tau Ward untuk merakit struktur angin lepas pantai berskala besar. Menurut kepala divisi komersial PTSC, Nguyen Tuan, perusahaan saat ini juga sedang mengembangkan proyek ekspor energi angin lintas batas yang menargetkan pasar Singapura. Langkah strategis ini diharapkan dapat memacu pembangunan pusat industri layanan energi terbarukan regional, sekaligus mendukung produksi hidrogen hijau dan amonia hijau di masa depan.

BACA JUGA

Park Hang-seo Resmi Ditunjuk Jadi Pelatih Baru Kanchanaburi FC — Mantan pelatih timnas Vietnam, Park Hang-seo, resmi ditunjuk sebagai manajer baru klub Thailand Kanc...

TOPIK
Energi Angin Vietnam GWEC Energi Terbarukan Investasi Infrastruktur Asia Pasifik
Bambang Wibowo
Jurnalis Olahraga Senior

Bambang Wibowo adalah jurnalis sepak bola yang telah meliput sepak bola Indonesia, Vietnam, dan Asia Tenggara selama lebih dari 10 tahun. Ia dikenal dengan analisis taktik yang tajam dan informasinya yang akurat seputar bursa transfer.